Feeds:
Posts
Comments

“Keberanian adalah perlawanan terhadap rasa takut, penguasaan rasa takut – bukan ketiadaan rasa takut.” —Mark Twain

Pagi itu aku bangun agak kesiangan, bangun pagi yang selalu menyakitkan, terbangun dengan alarm handphone. Segera aku teguk segelas air putih, kebiasaan setelah bangun tidur, dan aku lanjutkan aktifitas lainnya, mandi, dan sarapan. Jam dinding sudah menunjukkan pukul 08.50, waktu yang seharusnya aku sudah meninggalkan rumah menuju tempatku diperbudak (baca: kerja), tapi aku baru saja menyelesaikan sarapanku. Dengan bergegas aku pun menuju pintu rumah, dalam posisi di atas motor C-70 ku, Ibuku yang duduk di ruang tamu di dekat pintu, dia bertanya padaku, “apa yang paling kamu takutkan di dunia ini?” aku terdiam di atas motorku sekitar setengah menit, aku bingung, aku tidak tau harus menjawab apa, bergumam cukup lama “emmm…”, dan aku ingin segera berangkat karena bisa jadi akan terlambat sampai di tempat kerja lebih dari 10 menit. Pertanyaan yang sulit untuk aku jawab di waktu sesempit itu. Akhirnya keluarlah sepatah kalimat dari multuku, “yang aku takutkan itu, Ibu..” tanpa berpikir panjang, aku berpamitan padanya dan melesat menuju tempatku bekerja.

Sesampai di tempat kerja, aku masih merenungkan pertanyaan Ibuku tadi. Karena sebenarnya bukan takut yang aku rasakan, buktinya aku selalu membangkang, tidak patuh padanya. Beliau menceramahiku tentang masa depan dengan sudut pandang kehidupan mapan dan aku yang tidak peduli dengan masa depan ataupun kehidupan mapan. Aku yang kafir tidak takut dosa, dan tak lagi mengikuti ritual agama yang dianut Ayah-Ibuku. Kontradikis-kontradiksi yang mungkin membuat Ibuku sedih. Pertanyaan itu membuatku berpikir dan merenung, bahwa tidak seharusnya, aku memaksakan tentang pandangan-pandanganku, tentang ideku, tentang apa yang aku yakini, yang terkadang memang sangat bersebrangan, hanya pada Ibuku. Karena yang kurasakan adalah, aku mencintainya dan mencintai hidupku, dan itu jelas bukanlah sebuah ketakutan. Ketakutan bukanlah hal yang seharusnya aku hindari, ketakutan haruslah aku hadapi, haruslah aku jemput. Ketakutan juga berarti ketertundukan, dan aku tidak mau tunduk pada siapapun. Ratna seorang teman SMA ku, beberapa bulan yang lalu juga sempat mengirimiku sebuah sms yang berisi pertanyaan seperti itu, “apa ketakutan terbesarmu saat ini?” dan butuh beberapa jam untuk memikirkan tentang jawaban itu yang akhirnya aku jawab, “yang aku takutkan saat ini adalah, terjebak semakin dalam dan nggak sadar pada alur kehidupan modern ini” yang intinya adalah aku takut saat aku tak lagi memiliki mimpi.

Aku pun mulai bertanya pada beberapa teman dekatku lewat chat, sms, sembari kerja, tentang apa yang paling mereka takutkan. Dan jawaban yang membuatku sempat tertawa adalah jawaban Megga yang begitu polos dan sederhana, “aku takut dengan hewan yang makan orang.”

Work Sucks!

Dia berkata, “katamu benci kerja, katamu kerja itu sama aja dengan dipecundangi, mencuri kehidupan, memperkuat kemapanan sistem kapitalisme saat ini, tapi kenapa sampai saat ini kamu masih juga bekerja pada boss?” Terimakasih, setidaknya dia telah mengingatkanku, walapun aku tidak akan pernah lupa kalo kerja itu memang menyebalkan, dipecundangi, 8 jam sehari, 6 hari seminggu, tai, dst dst. Dan aku tetap bekerja, dengan kebencian, dengan bermalas-malasan, datang terlambat, mencuri properti, mencuri waktu, dan mencuri apapun yang dapat aku curi, setidaknya inilah pembalasanku untuk merebut kebebasan hidup harianku yang tercuri. Sampai saat ini aku belum tau apa yang harus aku lakukan, ekonomi semakin mencekik. Aku memang tidak seberani kalian yang dapat hidup tanpa kerja rutin, atau bahkan mungkin aku gak seberuntung kalian yang tak mempunyai beban keluarga (soalan basis ekonomi). Yaa, suatu saat nanti, entah kapan, aku akan tinggalkan rutinitas ini, walapun mungkin akhirnya aku juga akan kembali terjebak pada lingkaran setan kehidupan manusia modern.. work-buy-consume-die. Yaa dan aku sedang terjebak! Kawan, tampar lagi aku, bangunkan aku.. aku ingin bermimpi. Semoga secepatnya aku dipecat dari tempat kerjaku, karena aku tak terlalu berani mengundurkan diri untuk saat ini.

Dan aku hanya menjawabnya dengan senyuman, semoga dia mengerti.

Jika Hiu adalah Manusia

Tuan K ditanya oleh anak perempuan majikannya, “Jika hiu-hiu adalah manusia, apakah ia akan baik kepada ikan-ikan kecil?”

“Tentu saja,” jawabnya. “Jika hiu adalah manusia, mereka akan membuat kotak-kotak besar di laut untuk ikan kecil, dengan bermacam-macam makanan di dalamnya, sayuran dan binatang. Mereka akan memastikan kotak itu selalu berisi air segar, mereka akan membuat bermacam-macam program sanitasi. Contohnya, jika seekor ikan kecil terluka siripnya, akan segera diobati sehingga mereka tidak akan mati dan hilang sebelum menjadi santapan ikan hiu. Supaya ikan-ikan kecil itu tidak menjadi murung, di tempat itu akan ada festival-festival air yang besar dari waktu ke waktu; karena ikan yang bahagia lebih enak rasanya daripada ikan yang murung.”

“Tentunya mereka juga akan disekolahkan di kotak-kotak besar itu. Di sekolah-sekolah ini ikan-ikan kecil akan belajar bagaimana cara berenang ke rahang hiu. Mereka harus mengetahui geografi supaya mereka dapat menemukan hiu besar yang terbaring malas di suatu tempat. Subjek utamanya tentu adalah pendidikan moral bagi ikan-ikan kecil. Mereka akan diajarkan bahwa mengorbankan diri sendiri dengan bahagia adalah hal yang paling baik dan paling indah di dunia dan bahwa mereka harus mempercayai para hiu, terutama ketika para hiu berkata bahwa mereka akan menyediakan sebuah masa depan yang indah. Ikan-ikan kecil akan diajarkan bahwa masa depan ini hanya bisa mereka dapat jika mereka belajar kepatuhan. Ikan-ikan kecil harus waspada kepada semua tendensi-tendensi dasar, materialis, egoistis, dan Marxis, dan jika salah satu dari mereka melanggar maka mereka harus segera melaporkannya ke hiu.” Continue Reading »

“Kerja merupakan sumber dari hampir seluruh kesengsaraan di dunia ini.”

—Bob Black

“A job that slowly kills you.”

—Radiohead, No Surprises

Terhitung sudah 2 tahun, aku bekerja di tempat kerjaku yang sekarang ini, di sebuah website. Jam kerja yang aku habiskan di dunia maya, di depan layar monitor 17 inchi, monoton, serasa menjadi zombie, untunglah ada Situs Jejaring Sosial atau sesekali teman ngobrol chating yang bisa sedikit melupakan penat ini. Yaa, kerja mencuri kehidupanku 8 jam sehari, 6 hari seminggu serasa waktu berjalan begitu cepatnya. Kebebasan yang dulu ada, sekarang hanya terbayar dengan gaji. Tapi tidak, ini tidak terbayar, kebebasan hanya bisa dibayar dengan kebebasan, tapi ..ehm sebentar, apakah kebebasan hanyalah mimpi? entahlah, jika memang mimpi aku ingin terus bermimpi.. Seolah kehidupan hanya sekedar rutinitas work-buy-consume-work-buy-consume, dan lagi, dan lagi, duhh! alienasi.. tanpa kreasi hanya kerja dan konsumsi dan mati! Inilah titik stagnansi yang teramat menyebalkan, terjerat dalam alur linier manusia  modern yang dibanggakan para orangtua, keluarga ‘bahagia’ dan wanita-wanita masa kini, dicibir tetangga, dst dst. Tunduk pada boss untuk menyamankan posisi itu basi! mencuri sesuatu dari tempat kerja ituh pasti. Ingin rasanya kembali kemasa lalu, masa kecil tanpa beban bebas rasakan kehidupan, lari-larian, kejar-kejaran, seharian, sampe rumah dan malam tertidur pulas.

Continue Reading »

“Bumi bukanlah milik manusia, Manusialah yang dimiliki bumi.”
—Green Anarchy

“Saat manusia mulai merasa memiliki bumi, maka ia telah kehilangan sisi alamiahnya.”
—Taufan Ishmael

Seluruh kehidupan di atas planet yang semakin tak nyaman ini diatur oleh sistem ekonomi global yang mendasari dirinya pada uang, profit dan pertukaran–kapitalisme. Secara virtual, segala sesuatu memiliki harga–makanan, minuman, tanah, rumah, tumbuhan, binatang, kerja manusia. Mereka yang tak mampu membayar tak akan diperbolehkan mendapatkannya, bahkan apabila konsekuensi dari ketidakmampuan tersebut adalah kematian.

Bagi mayoritas manusia konsekuensinya adalah bahwa hidup menjadi didominasi oleh kerja, sekolah yang menghabiskan setengah usia seseorang, pabrik, kantor, pasar dan penjara. Bagi banyak orang ini berakibat pada kemiskinan, perang dan berbagai bentuk penindasan lainnya. Tetapi toh manusia bukan satu-satunya yang terjebak dalam jejaring mengerikan ini. Segala jenis spesies menjadi subyek pengaplikasian industri yang berujung pada kesengsaraan dan kematian alam liar, bahkan juga, kepunahan.

Telah jelas bahwa apa yang dialami oleh manusia, dialami juga oleh spesies lain yang hidup di atas bumi, semua juga terjadi atas sumber yang sama, sistem produksi dan pertukaran yang juga sama. Dalam tulisan berikut ini, akan berusaha dipaparkan bahwa sistem yang mengeksploitasi manusia saat ini adalah sistem yang sama yang lahir dari penghancuran atas spesies lainnya, atas ekologi secara keseluruhan. Dengan demikian, diharapkan gerakan yang berupaya mengabolisi kapitalisme akan menyadari sepenuhnya bahwa itu adalah berarti juga mengubah relasi tak hanya antarmanusianya saja, tetapi juga antara manusia dengan alamnya.
Continue Reading »

l_933d2630783949af8d62aa3c032f0c86Siapa sih Banksy ?

Banksy merupakan seorang ‘Outlaw Artist’ yang berdomisili di UK. Kebanyakan dari karyanya berisi perlawanan terhadap peraturan-peraturan pemerintah Inggris. Diperkirakan nama asli dari sang outlaw artist adalah Robin Banks yang lahir pada tahun 1974. Karya-karyanya menggunakan gaya kombinasi graffiti dan teknik stensil yang distinctive. Topik-topik kulture budaya, etnik, dan politik sering diangkat sebagai tema karyanya. Menurut Tristan Manco, Banksy dilahirkan dan dibesarkan di Bristol, England. Karya-karyanya lahir dari scene underground di Bristol yang mengkolaborasikan musik dan graffiti. Karya yang berjudul “The Flower Chucker” masuk dalam film “The Age Of Stupid”. Sebuah kalimat yang dapat menggambarkannya adalah salah satu ungkapan dari Emo Philips yang berbunyi :

“When I was a kid I used to pray every night for a new bicycle. Then I realised God doesn’t work that way, so I stole one and prayed for forgiveness.”

Continue Reading »

2640_1129767845731_1273268021_387247_7688853_n

Melihat iklan-iklan parpol di jalanan, di TV, di selebaran yang diantarkan dari rumah ke rumah, dengan janji bertubi bergambar tampilan rapi, pake peci, pake dasi dan selalu dengan kata ganti `kita` ato `kami`, membuat mereka makin seperti pedagang yang menjual daganganya dengan cara memaksa ato kau dibilang dosa, masuk neraka jika tak membelinya, dan dengan penuh tipu daya tentunya…hahaha :D , dengan berdalih perubahan dan kesejahteraan. Padahal pemilu sudah terselenggara sampai puluhan kali sejak negeri ini merdeka dari Belanda, dan penjajahan ternyata diteruskan oleh negara. Siapa yang mau percaya dengan ritual lima tahunan seperti ini? Kamu? Suatu hari aku naik gunung Arjuno bersama beberapa orang teman, yaa gunung yang terkenal angker itu. Lewat jalur Purwosari, disana terdapat banyak sekali padepokan tempat para pertapa menuntut ilmu/mengumpulkan kesaktian. Aroma kemenyan bertebaran dimana-mana, menambah aroma mistis di badan gunung pada siang yang cukup mendung. Sebuah gapura terbuat dari kayu sebagai pintu masuk area padepokan dari rute sebelumnya, hutan heterogen yang juga bernama cukup mistis, `lali jiwo`. Saat sampe di area padepokan kami beristirahat dan ngobrol dengan orang-orang yang berada di padepokan tersebut. Tidak terlalu lama setelah beristirahat, seorang kuncen/juru kunci ato paranormal ato orang sakti..hmm whotever lah yang mungkin masih berumur 25 tahun, dia memperingatkan kami secara halus agar mengganti semua atribut berwarna merah yang kami pakai, seperti bandana, kaos atopun topi. Karena menurut adat setempat jika kita melakukan pendakian melewati jalur ini dengan memakai atribut warna merah maka kita akan tertimpa kesialan. Dia menceritakan cerita-cerita mistis dari para pendaki yang tidak menghormati adat setempat, ada yang tersesat sampai dua hari ternyata hanya muter-muter di bawah satu pohon saja, ada yang tiba-tiba terlepas dari rombongan pendakiannya, dll. Dan kami pun mematuhi petuah dari juru kunci tersebut. Tidak hanya itu, seorang teman juga pernah bercerita bahwa dia pernah memaksa untuk turun malam dan saat melewati hutan ‘lali jiwo’, dia malah tersesat dan terpaksa bermalam di dalam hutan itu, tapi bisa juga seeh karena dia terlalu lelah dan lupa jalan. Dan pada saat itu aku lebih percaya tahayul, daripada pendakian malah jadi bencana..hehe ;) . Pendakian kami teruskan dan tanpa ada satu pun halangan yang merintangi kami. Sampe pada pos 2 di sebuah gubuk dengan atap alang-alang, sekitar jam 7 malam, kami bermalam di sana dan melanjutkan rute menuju puncak pada keesokan harinya di pagi yang cerah. Dan kenapa warna merah yah?

Sebenarnya aku tidak terlalu percaya tahayul, apalagi parpol atopun negara.

*Foto: Kalimati – Gunung Semeru, koleksi pribadi.

Older Posts »