Feeds:
Posts
Comments

“Everything good in the end. If it’s not good, then it’s not the end.” (tweet seorang teman, saat aku akan menulis tulisan ini)

Malam itu aku datang tiba-tiba, tanpa mengabari dia seperti biasanya ketika aku akan ke rumahnya. Aku ingin mencoba apakah nasib akan membuat kami bertemu. Aku membawa surat cinta yang telah aku tulis beberapa hari sebelumnya. Jika dia tidak di rumah, mungkin surat itu akan kutitipkan ke siapa saja yang kutemui di rumahnya. Dan saat aku mengantar surat cinta itu sebenarnya aku bermaksud untuk menutup kisahku, merelakannya pergi.

Dia menarikku masuk ke dalam rumah, dan menahanku untuk tidak langsung pulang. Kami duduk berdekatan, kami saling berbincang, bertukar kabar karena kami lama tidak bertemu, dan aku memang sangat rindu dia. Aku genggam tangannya saat berbincang dan aku tatap matanya yang ceria saat itu. Kami berbincang seperti biasa, seperti kondisi saat masih pacaran dulu. Dia ceritakan segala hal, aku yang hanya bisa tahu kabarnya dari facebook yang sempat dia blokir. Dia ceritakan tentang dietnya, beratnya yang turun beberapa kilogram, dia ceritakan tentang rambutnya, dia ceritakan kalau dia habis sembuh dari sakit. Juga dia ceritakan tentang masalahnya dengan Selvi. Dia marah ketika dia tahu nomernya di phonebooku telah aku hapus, saat mabuk. Dia melarangku untuk mengkonsumsi alkohol. Dia suka dengan penampilanku yang katanya lebih rapi waktu itu, potongan rambutku, jaket jeans-ku. Dan dia ceritakan tentang liburannya ke pantai beberapa hari sebelumnya, dengan teman cowoknya yang tidak aku kenal. Dia pamerkan foto-foto liburannya dari handphone saat ke pantai. Yaa! aku sangat senang ketika melihatnya ceria, walaupun aku merasa cemburu karena teman cowoknya itu. Dan entahlah, beberapa hari setelahnya aku malah bermimpi sedang menghajar teman cowoknya itu.

Lalu dia memaksaku makan, menyuapiku dengan kue terangbulan keju, kue kesukaanku. Karena dia tahu aku belum makan malam. Kue yang tanpa rencana dia beli sore itu di dekat warung pangsit mie jamur. Dan kami berbincang lagi, aku tetap menggenggam tangannya. Waktu berjalan begitu cepat, begitu cepat jika aku berada di samping dia, menikmati momen dengannya. Sampai larut malam 22.30, aku tahu dia sudah mengantuk. Tiba-tiba petugas keamanan di lingkungan rumahnya mengetuk pintu, dan mengusirku dengan petuah moralis. Hati dan mulutku tidak bisa mengucapkan selamat tinggal padanya, ahh entahlah I know it’s not the end “sampai jumpa lagi, sayang!”

Sabtu siang, mendung dan rindu, 8 Oktober 2011.

[*] Aku rindu kamu, dan yang bisa aku lakukan sekarang hanyalah menulis tentangmu.

*Berikut ini adalah terjemahan dari artikel dalam Zine Profane Existence #44, okey selamat membaca!

“Our belief is that the human capacity for sex and love and intimacy is far greater than most people think -possibly infinite- and that having a lot of satisfying connections simply makes it possible for you to have a lot more.” —Easton & Liszt. The ethical slut: A Guide To Infinite Sexual Possibilities

“The most vital right is the right to love and beloved.” —Emma Goldman

Sebuah Interview Dengan Wendy-O Matik tentang Hubungan Terbuka Yang Bertanggungjawab

Revolusi muncul terjadi dalam berbagai wujudnya. Melalui setiap tindakan-tindakan kita dan setiap kata-kata yang kita ucapkan, kita semua dapat berusaha untuk mewujudkan sebuah revolusi di dalam hati kita dan pada dunia luas pada umumnya. Wendy-O Matik adalah seorang wanita revolusioner yang istimewa. Melalui bukunya, Redefining Our Relationships, dia menghancurkan stereotip norma-norma sebuah bentuk hubungan yang selama ini banyak mengikat dan mencekik kita semua. Dengan puisinya, ia memperlihatkan sebuah bentuk ketelanjangan emosi yang paling mendasar disertai provokasi pikiran yang sangat inspiratif. Wendy-O telah berkeliling dunia melakukan lokakarya, pembacaan puisi, dan mengadakan kelompok-kelompok diskusi disertai dengan dedikasi dimana beberapa orang yang ada di dalam komunitas punk telah mampu mempertahankannya. Dengan semangat, tekad dan kekuatan, Wendy-O berjuang untuk meruntuhkan sistem. [Diwawancarai oleh Adrienne Droogas pada 13 September 2003] Continue Reading »

Sore menjelang malam, di sebuah cafe yang nyaman, aku bersandar pada kursi sofa. Bersama seorang cewek temanku SMA, seorang cowok temanku SMA juga, dan dua orang cewek yang baru saja aku kenal hari itu. Dua orang cewek itu adalah teman dari temanku SMA tadi. Suasana tenang diiringi lantunan lagu jazz, kami tidak sedang mengobrol. Mereka sibuk dengan gadget-nya masing-masing. Aku melirik temanku cowok, sepertinya dia sedang membalas sms dari temannya. Aku melirik satu-persatu temanku yang lain, mereka juga sibuk mengetik di handphone Qwerty-nya, entah apa yg mereka ketik, mungkin sedang sibuk dengan Facebook, Twitter, BBM (BlackBerry Messenger), atau entahlah.

Handphoneku bergetar pertanda ada sms masuk, aku hanya membaca sms itu dan tidak membalasnya, sms yang tidak terlalu urgent untuk dijawab saat itu pikirku. Karena handphoneku juga sedang low-bat, maka aku letakkan kembali di atas meja di samping gelas berisi teh. Aku tetap diam, kami tetap diam. Aku menggaruk-garuk kepala walaupun tidak ada yang gatal, lalu menggaruk-garuk pantatku, karena memang ada yang gatal. Masih tetap sepi, sampai akhirnya camilan yang kami pesan datang dan memecah sepi. Horee!

“Teknologi membuat sesuatu yang jauh menjadi penting, tapi itu cuman kerjaan orang-orang yang nggak tau lagi hal penting yang perlu dia lakuin di tempatnya kini berada.” ~Crimethought

Cafe Bogor, 6 Juni 2011

“Untuk memahami cinta, seseorang harus mengalami patah hati” ~Tankboy

Aku pikir kutipan di atas memang benar adanya. Seseorang yang aku sayangi, aku cintai menyuruhku pergi dari hidupnya, atau dengan kata lain dia meninggalkanku. Seorang kekasih yang sama-sama memiliki sifat keras kepala sepertiku.

Mungkin sudah hampir seminggu ini aku tidak bernafsu makan walaupun perut terasa lapar. Memori-memori indah yang telah berlalu itu seakan menjadi tusukan yang perih saat aku tak sengaja mengingatnya kembali. Hanya ganja dan alkohol yang dapat membantuku tidur beberapa hari ke belakang, membantuku lupa. Teman-temanku menghiburku, mendukungku untuk melewati masa suram ini, membantu mengobati luka yang tak kunjung kering. Sebenarnya aku sudah beberapa kali mengalami patah hati, tapi selalu saja tidak siap untuk menghadapinya lagi.

Aku sudah mencoba memperjuangkannya, seperti kata seorang teman “bahwa cinta memang patut diperjuangkan, dan setelah itu dibebaskan”. Dan yaa mulai hari ini aku melepasnya, aku nggak mau memaksakan egoku.

Aku tidak menyerah pada hidup, aku hanya butuh istirahat. Cinta ada di sekelilingku, teman-temanku, keluargaku.

Meja kerja, 3 September 2011

[*]Curently Listening: Marissa Nadler – Little Hells (Album)

Kamu percaya tuhan?

Malam kemarau yang dingin, aku dan dia duduk berdampingan di teras depan rumahnya, sembari menatap purnama.

“Kamu percaya tuhan?” tanya dia.

Aku terdiam beberapa detik, aku bingung menyusun kata untuk menjawab pertanyaan itu.

Dan dia memotong keheningan itu, “Pasti jawabanmu fifty-fifty kan?”

Aku hanya tertawa kecil, lantas aku berkata “Aku tidak tahu, apakah aku memang perlu tuhan untuk kupercayai.. Hmm mungkin tuhanku alam semesta, jika dalam bentuk riil”.

Aku balik bertanya padanya, “Kalau kamu?”

Lantas dia menjawab “Aku percaya akan tuhan, tuhan itu ada dalam imajinasiku..”

Jawaban singkat yang membuat aku terdiam dan menyimaknya dengan seksama.

Dan dia menambahkan “Tuhan ada dalam imajinasi yang membantuku mengatasi masalah, menemaniku saat sedih, dan senang.”

Dia memang cewek yang sederhana dan istimewa pikirku, itulah yang membuatku selalu rindu.

Bosan Kerja, 16 Juni 2011

[*] Jika lebih banyak orang yang meng-ada-kan tuhan lewat imaji, dan tidak memaksakan imajinya ke orang lain, mungkin dunia saat ini akan lebih nyaman untuk ditinggali.

Malam Selasa

Mengenal dia pun aku belum lama, dia yang katanya pelupa..

Bersepeda pada malam selasa..

Saat pelajar dan pekerja melakukan rutinitas membosankan mereka, di rumah..

Sunyi jalanan dan sepeda, gelandangan membakar sampah..

Malam yang cerah, dia berbagi kisah, aku berbagi kisah..

Jembatan, taman kota, dan lampu kota..

 

Apa aku sedang bermimpi? atau dia yang membuatku lupa dengan mimpiku?

Subuh, 6 April 2011

 

[*] Curently Listening: Sigur Rós – Glósóli

NB: Untuk dia yang sedang sakit, karena terlalu lelah bersepeda, dan aku merasa bersalah. Aku tau kata-kata emang nggak bisa nyembuhin sakit.

Kematian, Pasti

Tidak seperti biasanya setelah beberapa bulan ini aku tidak lagi bekerja, aku bangun sepagi itu. Jam 7 pagi, aku terbangun karena perutku terasa sakit, mungkin karena masuk angin dan beberapa hari sebelumnya aku sering telat makan. Aku langsung bangun dari tempat tidur, berjalan menuju meja makan dan menuangkan segelas air putih, kebiasaanku setelah bangun tidur, minum segelas air putih. Dan selanjutnya aku menuju kamar mandi, menuntaskan sakit perutku. Saat akan keluar dari kamar mandi, aku mendengar handphoneku berdering, tanda ada telpon masuk. Kakaku mengantarkan handphoneku, beberapa detik sebelum aku membuka pintu kamar mandi. Seorang temanku, cewek, temanku sejak SMA yang menelponku. “Hey bangun, bangun!” kata dia, “aku sudah bangun dari tadi” jawabku. Dia melanjutkan “koq tumben?! ..aku takut, aku barusan mimpi buruk, aku kira itu nyata.” “Mimpi buruk bagaimana?” tanyaku. “Aku mimpi kamu meninggal, dan aku datang ke rumahmu ketika kamu sudah dikuburkan..” “Trus, sebab kematianku itu apa?” tanyaku penasaran, “Kata kakakmu, kamu udah beberapa hari kritis di rumah sakit, tapi aku dan teman-teman nggak ada yang tau kalo kamu sedang kritis di rumah sakit. Kamu kritis karena kamu kebanyakan minum minuman keras campur campur gitu.” “ouw.. aku gak apa apa koq, aku baik-baik aja.. ini barusan keluar dari kamar mandi, sakit perut, makannya aku bisa bangun sepagi ini.” timpalku. “Tuh kan, sakit perut.. kamu terlalu sering minum yang aneh aneh itu.” “Enggak koq, kalo ini karena masuk angin..” jawabku. “Yaudah, kamu kurangin tuh kebiasaan minum alkoholmu!” tegasnya. Kami pun ngobrol-ngobrol sebentar, dan berakhir karena dia akan mempersiapkan diri untuk berangkat kerja.

Kematian, beberapa minggu ini sepertinya aku sering mendengar kata itu. Pertama, dapat kabar bahwa temanku jauh dari Solo akan bunuh diri, dan untunglah ternyata tidak terjadi. Lalu beberapa hari yang lalu, ibu dari temanku meninggal, dan aku ikut ke pemakamannya. Kemarin, temanku atau lebih tepatnya kakak tingkatku di organisasi pencinta alam sewaktu SMA dulu, meninggal di usia 30an, karena sakit. Salah satu kepastian dalam hidup ini adalah kematian, hanya saja kita tidak akan pernah tau itu kapan. Hmm.. lantas aku berpikir, bertanya pada diriku sendiri, apakah kematian harus ditakuti? aku kira tidak, karena itu sudah pasti terjadi, dan aku mencintai hidup ini dengan segala susah senang, baik buruknya. Yang aku takutkan adalah jika aku tidak benar-benar hidup, menghidupi hidupku, sebelum aku mati. Karena banyak orang yang mati sebelum dia benar-benar hidup, aku hanya ingin hidup sebelum aku benar-benar mati.

30 Maret 2011

 

[*] Curently Listening: Warsore – Brutal Reprisal, Phobia – Get Up And Kill

Older Posts »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.