Sejak Marjinal bermarkas di Gang Setiabudi, Setu Babakan, Jakarta Selatan, dari hari ke hari kian banyak saja anak muda yang datang dan terlibat dalam program workshop. Selain membuka workshop cukil kayu dan musik, Marjinal mengusahakan distro sederhana. Sebuah lemari etalase diletakkan di beranda, menyimpan pelbagai produk Taringbabi; dari kaos, kaset, pin, stiker, emblem, zine sampai buku-buku karya Pramoedya Ananta Toer. Di dinding didisplay puluhan desain kaos, di ruang tamu yang selalu riuh itu. Di tengah-tengah kotak display, ada gambar tengkorak yang berbarik sebagai ikon Taringbabi.
Para punker biasanya datang secara berkelompok. Biasanya mereka duduk-duduk di beranda depan, melepas penat, setelah seharian berada di jalanan, sambil asyik ngobrol dan bermain musik. Dengan ukulele (kentrung), gitar dan jimbe mereka menyanyikan lagu-lagu Marjinal. Bob dan Mike pun ikut nimbrung bernyanyi bersama. Mike memberitahu accord atau nada sebuah lagu, dan menjelaskan makna dari lirik lagu itu. Proses belajar dan mengajar, secara tidak langsung terjadi di komunitas, dengan rileks.
Sebagian besar anak-anak itu memilih hidup di jalanan, sebagai pengamen. Ada yang masih sekolah, banyak juga yang putus sekolah. Mereka mengamen untuk membantu ekonomi orangtua. Sebagian besar mereka berlatar belakang dari keluarga miskin kota, yang tinggal di kampung-kampung padat penduduk; Kali Pasir, Mampang, Kota, Matraman, Kampung Melayu, Cakung, Cengkareng, Cipinang dan lain sebagainya. Bahkan ada yang datang dari kota-kota seperti Medan, Batam, Serang, Bandung, Indramayu, Cirebon, Tegal, Pekalongan, Semarang, Yogyakarta, Malang, Surabaya, Denpasar, Makasar, Manado, dll. “Dengan mengamen mereka bisa bertahan hidup, dengan mengamen mereka bisa membiayai sekolah dan membantu belanja sembako untuk ibu mereka.,” kata Mike, aktifis Marjinal.
Jika sekilas memandang penampilan mereka, boleh dibilang sebagai punk: ada yang berambut mohawk, jaket penuh spike, kaos hitam bergambar band-band punk dengan pelbagai slogan anti kemapanan. Kaki mereka dibalut celana pipa ketat dan mengenakan sepatu boot, ada juga yang hanya bersandal jepit.
Bagi anak-anak jalanan itu, Marjinal bagaikan oase, mata air yang menyegarkan kehidupan dan hidup mereka, di tengah cuaca kebudayaan Indonesia yang masih memarjinalkan anak-anak miskin kota, seperti yang didedahkan lirik lagu Banyak Dari Teman-temanku berikut ini:
Banyak dari teman-temanku / Lahir dari keluarga miskin / Di mana engkau enggan melihatnya, disana tak sederhana / Tak ada lagi banyak pilihan / / Diantara bising kereta / Dan sudut-sudut kumuhnya pasar / Di bawah terik matahari, disana tak sederhana / Tersangkut tajamnya pagar berduri / / Pelajar yang putus sekolah / Perempuan dan pekerja kasar / Dibawah beban yang dipikulnya, mereka tak sederhana / Terjebak pilihan yang berbahaya / / Tidur beralas tikar, dingin beratap mimpi / Tapi semuanya sirna oleh kenyataan / Kepala jadi kaki, kaki jadi kepala / Disunat dipotong-potong dicincang-cincang / / Banyak dari teman-temanku yang hidup dijalan sana / Dimana kau tak merindukannya mereka kian tersiksa / Tergusur gagahnya gedung yang somse (sombong sekali ah!) / / Di balik tirai yang suram dan dipinggir keangkuhan / Bergelut dengan kegelapan tersungkur di kaki besi / Tertembus panasnya timah kebencian
***
Persoalan anak jalanan di kota-kota besar di negeri ini sudah lama diperbincangkan, mulai dari kampus, kelompok studi, sampai seminar di hotel berbintang lima. Namun, untuk mengurai persoalan ini tidak mudah sebab menyangkut perut banyak orang. Banyak oknum yang memeras anak jalanan.
Pada saat krisis ekonomi, jumlah anak jalanan melonjak 400 persen. Sedangkan Departemen Sosial, tahun 1998 memperkirakan, jumlah anak jalanan mencapai angka 170.000 anak. Anak jalanan, secara umum akan dibilang anak jalanan yang masih tinggal dengan orantuanya atau keluarganya dan anak jalanan yang benar-benar lepas dari keluarganya serta hidup sembarangan di jalanan. Usia mereka 6-15 tahun.
Kehidupan anak muda di jalan adalah satu subkultur. Sebuah subkultur selalu hadir dalam ruang dan waktu tertentu, ia bukanlah satu gejala yang lahir begitu saja. Kehadirannya akan saling kait mengait dengan peristiwa-peristiwa lain yang menjadi konteksnya. Untuk memudahkan kita memahami gagasan mengenai subkultur anak muda jalanan, mari mencermati peta antara hubungan anak muda dan orang tua, serta kultur dominan sebagai kerangkanya.
Sekurang-kurangnya, ada dua pihak yang –berkat dukungan modal yang melekat pada dirinya– berupaya mengontrol kehidupan kaum muda, yaitu negara dan industri berskala besar. Di Indonesia, pihak pertama yaitu negara berupaya mengontrol kehidupan anak muda melalui keluarga. Keluarga dijadikan agen oleh negara, sebagai saluran untuk melanggengkan kekuasaan.
Melalui UU No. 10/1992 diambil satu keputusan yang menjadikan keluarga sebagai alat untuk mensukseskan pembangunan. Keluarga tidak hanya dipandang memiliki fungsi reproduktif dan sosial, melainkan juga fungsi ekonomi produktif. Pengambilan keputusan keluarga dijadikan alat untuk mensukseskan pembangunan, pada gilirannya, membawa perubahan pada posisi anak-anak dan kaum muda dalam masyarakat.
Negara memandang anak-anak dan kaum muda sebagai satu aset nasional yang berharga. Karena itu, investasi untuk menghasilkan peningkatan modal manusia (human capital) harus sudah disiapkan sejak sedini mungkin. Dalam hal tugas orang dewasa adalah melakukan penyiapan-penyiapan agar seorang anak bisa melalui masa transisinya menuju dewasa. Akibatnya ada pemisahan yang jelas antara masa anak-anak dan masa muda dengan masa dewasa. Adalah tugas orang tua untuk memberikan pemenuhan gizi yang dibutuhkan, mengirim ke sekolah sebagai bagian dari penyiapan masa transisi.
Saya Shiraishi (1995) yang banyak mengamati kehidupan keluarga dan masa kanak-kanak dalam masyarakat Indonesia mutakhir mengatakan bahwa implikasi lebih lanjut dari gagasan keluarga modern itu pada akhirnya menempatkan anak-anak sepenuhnya dibawah kontrol orangtua. Orangtua menjadi kuatir bila anaknya tidak mampu melewati masa transisi dengan baik, misalnya putus sekolah, dan akan terlempar menjadi kaum “tuna” (tuna wisma, tuna susila dan tuna lainnya), kaum yang kehidupannya ada di jalanan.
Kekuatiran ini bisa dilihat secara jelas dengan streotipe mengenai kehidupan jalanan sebagai kehidupan “liar”. Bukanlah satu hal yang mengada-ada bila kemudian para. orang tua lebih memilih untuk memperpanjang proteksi anak-anaknya untuk berada di dalam rumah sebab lingkungan di luar rumah dianggap sebagai”liar” dan mengancam masa depan anaknya. Pilihan untuk memperpanjang masa proteksi anak-anak inilah yang kemudian ditangkap sebagai peluang niaga oleh para pengusaha.
Belakangan ini dengan mudah kita bisa melihat berbagai produk atau media untuk membantu penyiapan masa transisi anak-anak. Berbagai media cetak dan elektronika mengeluarkan berbagai produk bagaimana menyiapkan anak secara “baik dan benar” dalam rangka pengembangan sumber daya pembangunan. Para orang tua pada. gilirannya akan lebih mengacu pada berbagai media itu sendiri dibandingkan pada peristiwa sehari-hari yang dialami oleh anaknya.
Cara membesarkan anak yang diimajinasikan oleh negara dan pemilik modal inilah yang kemudian menjadi wacana penguasa (master discourse) untuk anak-anak Indonesia. Ia digunakan sebagai alat untuk menilai kehidupan keseluruhan anak dan kaum muda di Indonesia. Hasilnya seperti yang ditunjukkan Murray (1994) adalah mitos kaum marjinal: yang dari sudut pandang orang luar menggambarkan orang-orang ini sebagai massa marjinal yang melimpah ruah jumlahnya dengan budaya kemiskinan dan sebagai lingkungan liar, kejam dan kotor … sumber pelacuran, kejahatan dan ketidakamanan.
Jalan raya bukanlah sekadar tempat untuk bertahan hidup. Bagi kaum muda tersebut jalanan juga arena untuk menciptakan satu organisasi sosial, akumulasi pengetahuan dan rumusan strategi untuk keberadaaan eksistensinya. Artinya ia juga berupaya melakukan penghindaran atau melawan pengontrolan dari pihak lain.
Sebuah kategori sosial, anak jalanan, bukanlah satu kelompok yang homogen. Sekurang-kurangnya ia bisa dipilah ke dalam dua kelompok yaitu anak yang bekerja di jalan dan anak yang hidup di jalan. Perbedaan diantaranya ditentukan berdasarkan kontak dengan keluarganya. Anak yang bekerja di jalan masih memiliki kontak dengan orang tua, sedangkan anak yang hidup di jalan sudah putus hubungan dengan orang tua.
Soleh Setiawan, seorang anak jalanan yang sudah hampir dua puluh tahun hidup di jalan menuturkan pengalamannya. Katanya, waktu kecil ia banyak ngeluyur di kampung Arab lalu sempat sekolah di Al-Irsyad, sebuah sekolah ibtidaiyah di Pekalongan. Tapi ia lebih senang bermain di jalan dibanding sekolah, lebih banyak bermain dari pada belajar. Sejak kecil dia tidak mengenal orangtua kandungnya. Dia dibesarkan seorang pamannya yang juga lebih banyak hidup di jalan. Seorang dokter yang cukup terpandang di Pekalongan mengadopsinya. Tetapi Soleh kecil selalu tidak merasa betah tinggal di rumah itu walau segala kebutuhannya dicukupi oleh orangtua angkatnya. Dia lebih sering bermain di luar rumah, sehingga orangtua angkatnya murka. Soleh pun minggat dari rumah. Dengan menumpang kereta api barang, ia pergi ke beberapa kota di Jawa, lalu ikut kapal penangkap ikan dengan rute pelayaran Kalimantan – Bali. Ia bekerja sebagai koki kapal selama 3 bulan.
Ketika pertama kali hadir di jalan, seorang anak menjadi anonim. Ia tidak mengenal dan dikenal oleh siapapun. Selain itu juga ada perasan kuatir bila orang lain mengetahui siapa dirinya. Tidaklah mengherankan bila strategi yang kemudian digunakan adalah dengan menganti nama. Hal ini dilakukan untuk menjaga jarak dengan masa lalunya sekaligus masuk dalam masa kekiniannya. Anak-anak mulai memasuki dunia jalanan dengan nama barunya. Ketika hidup di jalanan, Soleh dipanggil Gombloh karena sering nggambleh, bergelantungan di mobil atau kereta api, pergi ke mana pun tanpa tujuan. Biasanya anak-anak yang berasal dari daerah pedesaan menggganti dengan nama-nama yang dianggap sebagai nama “modern” yang diambil dari bintang rock atau yang yang biasa didengarnya misalnya dengan nama John, Jimi, Tomi dan semacamnya.
Proses penggantian sebutan itu dengan sendirinya menunjukkan bahwa ia bukan sekadar pergantian panggilan saja tetapi juga sebagai sarana menanggalkan masa lalunya. Artinya ia adalah bagian dari proses untuk memasuki satu dunia (tafsir) baru. Sebuah kehidupan yang merupakan konstruksi dari pengalaman sehari-hari di jalan.
***
Apakah mereka memahami apa itu punk?
Mike: Terus terang gua ngasih acungan jempol buat teman-teman yang hidup di jalan… Mereka punya kebanggaan, berpenampilan ngepunk, mereka tetap bertahan walau orang-orang sekitar yang melihat menilainya macam-macam. Bagi gua itu sebuah bentuk perlawanan juga. Melawan pikiran-pikiran orang yang sudah dimapankan — yang menganggap negatif karena melihat penampilan orang lain yang beda, menyimpang, diluar kelaziman. Tapi yang lebih penting adalah nilai-nilai punk dalam prakteknya berkembang dalam kehidupan sehari-hari. Bagaimana mereka bisa survive, menjalin kebersamaan, saling peduli satu sama lain dan tetap mengunggulkan rasa dan kebebasan. Hidup di jalanan kan penuh tantangan. Apalagi sesusia mereka, ada yang masih anak-anak, yang orang bilang diluar kewajaran — ketika anak-anak yang lain kan sekolah, pulang ke rumah, bermain, latihan ini dan itu, les piano … Mereka hidup di jalanan mencari uang untuk membantu orangtua. Kadang dikejar dan digaruk trantib. Digertak atau diperas orang yang sok jagoan, macho… Tapi dalam posisi bertahan hidup di jalan, mereka mandiri, sehat, gembira, dan punya rasa humor. Buat gue itu penting, manusiawi banget!
Tapi, di sisi lain Mike prihatin ketika melihat para punker yang hidup di jalan, hanya menjadikan jalanan sebagai tempat nongkrong dan mabuk-mabukan. Mereka mencari uang dengan mengamen tapi hasil jerih payahnya itu hanya untuk membeli obat-obatan (drugs) dan minuman beralkohol. Mereka masih berusia belasan tahun, tiba-tiba memutuskan berhenti sekolah dan lari dari rumah, karena terpengaruh teman-teman nongkrong . Mereka menenggak minuman dan menelan puluhan tablet dextro (tablet obat batuk yang disalahgunakan untuk mabuk). Banyak dari mereka adalah perempuan berusia dini, dan menjadi korban pelecehan seksual.
Bagi mereka, punk sebatas tempat pelarian. Lari dari kesumpekan rumah. Lari dari tekanan hidup. Lari dari tanggungjawab. Lari dari kenyataan! Di kepala mereka, dengan berpenampilan diri seperti punker, mereka bisa bebas dari segala bentuk tekanan hidup, bebas semau-gue, bebas nenggak minuman atau menelan puluhan tablet dextro, bebas mengekspresikan diri sebebas-bebasnya walau masyarakat di sekitarnya terganggu, seperti yang terjadi berikut ini:
Pada suatu siang yang gerah, empat anak-muda (belasan tahun) berjalan oleng di depan squat Marjinal. Mereka sudah beberapa kali mondar-mandir, dan seorang diantaranya berwajah pucat, matanya terpejam, dalam keadaan mabuk berat, sehingga menjadi tontonan warga. Ketika ditanya tujuannya hendak ke mana, mereka cuma menggeleng-gelengkan kepala sambil meringis.
Anak-anak kampung Setiabudi (berusia belasan tahun) pun mengarak mereka ke pinggir kali. Segala atribut punk yang melekat di tubuh mereka dilemparkan ke kali, sambil diteriaki,”Pecundang! Pecundang! Pecundang!” Setelah itu, mengusir mereka.
Kejadian serupa, akhir-akhir ini banyak terjadi di beberapa tempat di Jakarta. Bahkan ada aksi kriminal, seperti kasus perkosaan yang terjadi di terowongan Casablanca yang dilakukan segerombolan orang yang beratribut punk, yang diceritakan Kodok (personil Bombardir). “Begitu mendengar kejadian itu, gue bareng warga menyisir beberapa tempat yang biasanya jadi tempat nongkrong mereka,” ujar Kodok dengan nada tinggi.
Squat Marjinal juga sering kedatangan para orangtua yang mencari keberadaan putrinya — (seperti Nia dari Citayam). Belum lagi pertanyaan-pertanyaan para ibu tentang putra-putri mereka yang berperilaku “aneh” di mata mereka. “Rambut diwarnai merah, sering diluar rumah, dan malas sekolah, maunya pergi jauh ke Jawa padahal gak megang duit” kata seorang ibu dari Pondok Kopi.
Sampai saat tulisan ini dibuat, masyarakat awam masih memandang Punk sebagai sebuah organisasi yang terpusat. Sehingga wajar saja apabila para orangtua menanyakan segala sesuatu menyangkut putra-putrinya ke squat Marjinal. Pada kenyataannya, punk adalah satuan-satuan kecil komunitas yang menyebar. Di luar itu, adalah massa cair seperti yang dipresentasikan para gerombolan yang beratribut punk di jalanan.
Berbeda dengan gerombolan yang beratribut punk di jalanan yang ngamen untuk mabuk, punk jalanan yang beken juga di sono disebut street punk adalah sebuah gerakan budaya tanding ( counter cilture) yang melawan kemapanan budaya dominan yang dibentuk oleh sistem kekuasaan. Street punk muncul di Inggris pada tahun 1980-an, pada masa rezim Perdana Menteri Margareth Thatcher, dari Partai Konservatif, yang kebijakan ekonominya sangat liberal, memberi peluang kapitalis mengembangkan pasar modal (ekonomi uang) tetapi di sisi lain mengabaikan kelas pekerja, sehingga pengangguran pun merajalela. Ketika pabrik-pabrik menutup lowongan pekerjaan, bahkan memecat banyak karyawannya dengan alasan efesiensi, masyarakat kelas pekerja menggunakan jalanan sebagai tempat mencari nafkah, membuat jejaring-kerja, serta aksi protes yang diselingi karnaval dan musik.
Sebagai sub-kultur Punk terinspirasi oleh karya-karya seni perlawanan. Antara lain, dari novel karya Charles Dickens, yang sebagian besar menceritakan nasib anak-anak (dari panti asuhan) yang dipaksa bekerja sebagai pembersih cerobong asap di pabrik-pabrik yang menggunakan teknologi mesin uap untuk menggenjot produksi pada era Revolusi Industri. Anak-anak itu merasa tersiksa bekerja sehari-semalam, tanpa makanan yang cukup, di tempat-tempat yang kumuh tidak berpenerangan. Mereka akhirnya memberontak, menolak segala bentuk eksploitasi! Mereka lari dari panti-asuhan! Lalu memutuskan hidup secara kolektif. Mereka menggunakan jalanan di London sebagai sumber mencari nafkah dan ilmu-pengetahuan. Dan terbebas dari eksploitasi.
Bagi seorang punk, jalanan adalah kehidupan. Di jalanan mereka bertemu dengan orang-orang, di jalanan mereka saling berbagi pengetahuan, di jalanan mereka berdagang, di jalanan mereka menyuarakan kebenaran melalui nyanyian. Pada 1980-an, terjadi bentrokan hebat antara punker dan hippies, karena perbedaan persepsi tentang kehidupan di jalanan. Bagi hippies, jalanan adalah ruang publik sebagai tempat mereka mengekspresikan kemuakan akan kehidupan yang diwarnai perang dan ancaman nuklir. Di jalanan mereka berdemonstrasi membagi-bagikan bunga, seks bebas (war no, sex yess) dan menenggak obat-obatan (drugs) –mereka ingin lari (escape) dari kehidupan ini. Kebalikannya, punk melihat kehidupan ini sebagai projeksi, tergantung si individu itu untuk melakukan perubahan. Perubahan itu dimulai dari yang tidak ada, doing more with less, menjadi sesuatu yang ada dan berarti. Punk tak pernah lari dan sembunyi ketika dihadapkan pada problematika kehidupan. Hadapi! Tuntaskan!
Melihat fenomena gerombolan yang beratribut punk yang nongkrong, mabuk dan mondar-mandiri di Jakarta akhir-akhir ini, tidak perlu dipertanyakan lagi… Mereka bukan punk! Mereka hanya beratribut punk tetapi jalan hidupnya adalah hippies! Hanya hippies yang lari dari kehidupan, dengan nenggak minuman dan obat-obatan (drugs), mereka lari dari kebebasan (escape from freedom). ***
*) Tulisan ini nukilan dari manuskrip buku “ Marjinal: Punk – Blaut!”oleh Haska, yang akan terbit Oktober yang akan dating.
sumber : koran-marjinal



seru juga baca ini…
ada ga ya penelitian yang fokus ke anak punk?
minimal perkembangan anak punk mule dari sejarah sampe skrang..
1 lagi, bs ngasi referensi buku yg bs saya baca u/ lbh paham ttg kehidupan punk?
makasi..
oke, makasih juga buat tanggapanya…:)
hmm…penelitian, kayaknya cukup banyak…
cari di google kayaknya ada…
“The Philosophy of Punk : More Than Noise”, oleh Craig O Hara…banyak zine fotokopian yang aku baca kasih referensi tentang buku ini, aku sendiri belum dapet bukunya…:)
w suka sma gaya ank punk….
wlwpun ancur-ancuran tp itulah PUNK…
salam kenal……..
jg ggyptye d tolong donk ada gitar kentrung nya donk
mantebzzz……..
ada tuh buku The Philosophy of Punk he he he
halo dari medan nih.
ulasan ini sgt berarti sekali buat aku pribadi yg notabene sering berada dijalan.karena sebagian kehidupan ato malah hampir seluruhnya aku tumpahkan dijalanan.dan aku bangga bisa jadi bagian dari punk dan jalanan.meskipun aku perempuan bukan berarti aku harus menunggu ato jadi pelengkap saja di scene.setiap hari hampir setiap detiknya aku terus berpikir dan mencari sesuatu yg berguna buat scene aku.
tanpa sengaja aku dpt blog ini yg mengulas tentang sisi buruk dan sisi baik dari seorang punk jalanan oleh mike.
fenomena itu hanya kita yg mengerti dan bukan masyarakat!kita hidup dijalanan bukan utk mendengarkan opini masyarakat.karena kita sudah tau apa yg boleh dan tidak boleh kita lakukan tanpa harus mengubah aturan yg sudah ada.hehhehehe kembali ke individu nya aja masalah drugs,alkohol,attitude,maupun alasan utk apa mereka punk jalanan(hippies atopun ga) berkeliaran dijalanan.itu semua mungkin PROSES!
BLAST!
vivala anarki
vivala revolusion
BROTHER” Qu yg brada dsana ayo bangkit terus berjuang hingga te”s darah terakhir.kami yg ad di sini salalu mendukung kalian street punk MEDAN.jangan pernah takut akan bajingan” tikus rakyaT.
salam yah waT scene JUANDA MEDAN
ANTI MEDIA
ANTI PEMERINTAHAN
SATPOL PP BRENGSEX
KEPARAT WAT ANJING POLITIK
AND BABI” KORUPTOR
PUNK anti MEDIA .
@ eZu SuHaR :
PUNK anti MEDIA ??
weleh, media yang kayak giman dulu neeh?? henpon tuh kan juga media, trus blog kan juga media..
kalo menurutku seeh, “anti media” tuh bisa jadi multi tafsir kalo gak kamu jelasin juga yang kayak gimananya dan untuk apa anti media..
yaa aku tau kenapa ada semacam aksi anti-media (TV ato KORAN contohnya), ya karena kebanyakan cuman buat alat propaganda/perayu/penipu, si pemerintah, para pengusaha, para penguasa untuk mertahanin status-quo mereka, juga kepentingan mereka..
jadi pintar-pintarnya kita aja manfaatin media tersebut, nggak malah kita yang dimanfaatin en jangan langsung percaya aja ama media2 tersebut, cari kebenarannya sendiri..
ato lebih seru lagi kalo kita bikin media kita sendiri, kayak bikin zine, radio, blog, website…yaa yang penting mah tetep D.I.Y.
@ reyza :
okkey tetep semangat yah..
jalanan memang sebuah pilihan.
jalanan bkn sandaran……….
jalanan bkn pelarian…………..
jalanan bkn khayalan…………
jalanan adl KEHIDUPAN………..
OI… OI… SEDULURKU YG DA DMNA2, STAY PUNK, STAY REBEL,,
sosial-sosial
PERBEDAAN BKANLAH PERANG, TAW BKAN SWATU ANCAMAN!!!
LETS GO DRUNK TOGHETER…………………………………………
MANFAATKAN MEDIA SEBELUM MEDIA MEMANFAATKAN KITA…………………………………………..!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
saiigg ..
seru euii bca’a ..
artikel iiank mnarik….
wah, maksih iia…
anti korupsi
jalanan itu sekolahku……
jgn pake atribut punk,klo gaya lo msh hippies……………………..!
anjink.!!!! imej punk jd ancur beud!!!!!
bwt marjinal perjuangkan terus,jgn hentikan perlawanan thdp pihak2 yg ngsh imej buruk ama pun.
oi …….oi……oi…..oi….oi……oi.!!!!!!!
persetan buat hippies………..
jngn lah kau rusak imej kami/punk
kalian tak mengerti apa arti hidup sesungguhnya…..
terus maju wahai inspirasi ku………..
tampolonk kaleng belut di talian ….
tong ngomong gandeng gelut sakalian………
yyaaaacch asyik jg bcnya brooowww,,,,,,,,,,
slm oi oi oi oi oi …………dri kmi street crb
☻PunK iTu aLiRan Band . . .
☺PunK iTu eQuALity . . .
☻PunK iTu BUkan G3mBeL. . .
☺PunK iTu Rock . . .
☻PunK iTu StrEET. . .
☺PunK iTu TeRiaK. . .
☻PunK iTu BroNtaK . . .
☺PunK iTu 4 HuruF. . .
☻PunK iTu Anti PeNinDasaN. . .
☺PunK iTu Anti SuaP-MenyuaP. . .
☻PunK iTu MeLodyC. . .
☺PunK iTu Voice. . .
☻PunK iTu bUKan MaEn-maEnaN. . .
☺PunK iTu buKan SeKedaR G@ya. . .
☻PunK iTu DesTroy. . .
☺PunK iTu Bukan n@Ma OraNg. . .
☻PunK iTu C@ra HidUp. . .
☺PunK iTu KomUniTas. . .
☻PunK iTu MohaWk. . .
☺PunK iTu ChaOs . . .
☻PunK iTu Anti MiLitary. . .
☺PunK iTu B3rKreaSi. . .
☻PunK iTu PoSiTiF. . .
☺PunK iTu G@k @da Ketua. . .
☻PunK iTu T3riakaN Rakyat KeCiL. . .
☺PunK iTu aNti PoL PP. . .
☻PunK iTu aNti KoruPsi. . .
☺PunK iTu LepAs AtuRan. . .
☻PunK iTu Keb3RsaMaaN. . .
☺PunK iTu KorBan PeniNdaSan. . ..
☻PunK iTu RuZuh. . .
☺PunK iTu ManDiRi. . .
☻PunK iTu saMa. . .
☺PunK iTu BanGkiT. . .
☺PunK iTu PanTang MenyeRah. . .
PUNK adalah jawaban dari sebuah bentuk kebebasan, kita ada untuk berjuang dan kita ada untuk melawan, lupakan semua integritas jalanan, karena kita tak pernah hidup di jalanan tapi kita bergerak dan berjuang di jalanan
KaMi kauM TerMARjinalKan!!!
MArsiNAh maTi Mu Tak Sia-siA!!!
KAMI BUKAN SAMPAH !!!
…..HukuM adLaH LeMbAh HiTaM…
…..CiNta Itu PemBOdoHAn……
….. NeGaRa kU PeNJaRakU ….
…..kOTa PemBAngKanG yG qT daMbAkaN…
…. sAuDaRa s’b0ToL…
….LAwan KemISkiNan DaRi KoTa JepARA
YaNg kitA BaNggA KaN…
…….PerlawaNan terHAdaP PaRA penInDAs MasYraKaT…
…..kebebsaN Ku Di BaWAh AcUNgan senJATA!!!!!!
*KAMI MENOLAK KEMAPANAN *
@Bangun masyarakat yang KREATIF dan
PRODUKTIF !!!!!!!
@Tolak budaya MILITERISME, FASIS, APATIS, dan KONSUMERISME!!!
*K3n4p4 Punk Di indentikan D3ng4n Gembel?
*k3n4p4 punk di identikan d3ng4n Kejahatan?
*k3n4p4 Punk di jadikan sampah masyarakat?
*k3n4p4 punk Selallu Dihina?
*k3n4p4 Punk hanya di buat sebagai model?
Ada 1 Hallllllllllll:
Punk adalah Gaya Hidup yg “ANTI KEMAPANAN”(We Can Do It Ourselves)
“BEBAS”
smuanya keren bro hidup, untuk kaum anak punk marjinalla steet punk tak Pernah mati bro lawan lawan kemiskinana ok bro, punk itu bukan sampah bila kau bukan punk aq lah anak street punk komuni komunitas punk;’;';’;';’hidup hidup lah komuni komunitas punk……………..
bahwa punk tu tak pernah mati ;’;';’;';”;’;';’;';’
perjalanan inin bukan lah tanpa tujuan……………….
lihat lah negri kita yg subur dan dan kaya raya sawah ladang terhampar luas samudra biru tapi ratap lah negri kita alam yg gelag tiada berbitang dari cerita dan cerita terus cerita
,pedagang kaki lima terkusut teraniyaya……
aparat keparat polisi bangsat militer anjing tai kucing….
kami masih muda masih punya banyak cita….,
julung julung bro????????????????????????????????????????
aku cinta am punk…….
punk adaLah hidup n matiiku….
pun,,
Luph u so much…
sUka ma keHidUpaan PuNk…
KaReNa PuNk BebAs DarI aturaN..
LeBih DeKat DeNgan HIDuP aPa aDa_a..
GgA HiDuP DeNgan kemeWahan…….
SaLiNg MembanTu & BerBagI 1 SaMa YaNg LaiN…
1 UnTuK seMua…………
BeranTasKan PaRa pOLiTiK,
YaNg suDaH MenGhAnCuRKan NeGarA InDOneSia………..
HiDuP PuNk..
saLam Kenal Z Dr d’GeMbLezzz
PunK ItU IndaH!!
PuNk oi…….oi….. cUyyyyyyyy…………….
I LuPh PuUuUuUuUuUunnkkkkkkk!!!!!!!!!!!!!
MuuuuuuaaaacCCChhhhh…………………
PUNK..!!!!
LAHIR DARI SUATU KOMUNITY YG TDAK SUKA DI TINDAS DIA MEMBRONTAK DRI KHIDUPAN UNTUK SUATU KEBEBASAN …..
PUNK..!!!
INGAT KTA UZTADZ:
JNGAN LUPAKAN TUHAN MU DAN KE2 ORANG TUA MU…!!!
DI DLAM KOMUNIY INI KITA TDAK SPENUHNYA BEBAS…!!
TP KITA PUNYA KEWAJIBAN AGAR LO BEBAS DI DUNIA DAN AKHIRAT ….!!!!!!!!
JNGAN LUPA SHOLAT MAAAN…!!!
JANGAN KTAWA LO BACA NASEHAT GWE…!!!!
GWE TW LO LGI PDA KTAWA…!!!!
Ex:
__ChiMeNk__
yaelah, cerewet amat seeh.. klo mo ceramah jangan disini oi! gw gak percaya ama agama, surga, neraka, dll.
oi..oi..oi
equality sangat penting to komunitas
oioi…. . . . .!!!!