
Melihat iklan-iklan parpol di jalanan, di TV, di selebaran yang diantarkan dari rumah ke rumah, dengan janji bertubi bergambar tampilan rapi, pake peci, pake dasi dan selalu dengan kata ganti `kita` ato `kami`, membuat mereka makin seperti pedagang yang menjual daganganya dengan cara memaksa ato kau dibilang dosa, masuk neraka jika tak membelinya, dan dengan penuh tipu daya tentunya…hahaha
, dengan berdalih perubahan dan kesejahteraan. Padahal pemilu sudah terselenggara sampai puluhan kali sejak negeri ini merdeka dari Belanda, dan penjajahan ternyata diteruskan oleh negara. Siapa yang mau percaya dengan ritual lima tahunan seperti ini ?? Kamu ??Suatu hari aku naik gunung Arjuno bersama beberapa orang teman, yaa gunung yang terkenal angker ituh. Lewat jalur Purwosari, disana terdapat banyak sekali padepokan tempat para pertapa menuntut ilmu/mengumpulkan kesaktian. Aroma kemenyan bertebaran dimana-mana, menambah aroma mistis di badan gunung pada siang yang cukup mendung. Sebuah gapura terbuat dari kayu sebagai pintu masuk area padepokan dari rute sebelumnya, hutan heterogen yang juga bernama cukup mistis, `lali jiwo`. Saat sampe di area padepokan kami beristirahat dan ngobrol dengan orang-orang yang berada di padepokan tersebut. Tidak terlalu lama setelah beristirahat, seorang kuncen/juru kunci ato paranormal ato orang sakti..hmm whotever lah yang mungkin masih berumur 25 tahun, dia memperingatkan kami secara halus agar mengganti semua atribut berwarna merah yang kami pakai, seperti bandana, kaos atopun topi. Karena menurut adat setempat jika kita melakukan pendakian melewati jalur ini dengan memakai atribut warna merah maka kita akan tertimpa kesialan. Dia menceritakan cerita-cerita mistis dari para pendaki yang tidak menghormati adat setempat, ada yang tersesat sampe dua hari ternyata hanya muter-muter di bawah satu pohon saja, ada yang tiba-tiba terlepas dari rombongan pendakiannya, dll. Dan kami pun mematuhi petuah dari juru kunci tersebut. Tidak hanya itu, seorang teman juga pernah bercerita bahwa dia pernah memaksa untuk turun malam dan saat melewati hutan ‘lali jiwo’, dia malah tersesat dan terpaksa bermalam di dalam hutan itu, tapi bisa juga seeh karena dia terlalu lelah dan lupa jalan. Dan pada saat itu aku lebih percaya tahayul, daripada pendakian malah jadi bencana..hehe
. Pendakian kami teruskan dan tanpa ada satu pun halangan yang merintangi kami. Sampe pada pos 2 di sebuah gubuk dengan atap alang-alang, sekitar jam 7 malam, kami bermalam di sana dan melanjutkan rute menuju puncak pada keesokan harinya di pagi yang cerah. Dan kenapa warna merah yah ??
Sebenarnya aku tidak terlalu percaya tahayul, apalagi parpol atopun negara.
*Foto : Kalimati – Gunung Semeru, koleksi pribadi.



aku percaya yang punya blog ini jago nulis
makasih, aku masih belajar nulis koq..