Malam kemarau yang dingin, aku dan dia duduk berdampingan di teras depan rumahnya, sembari menatap purnama.
“Kamu percaya tuhan?” tanya dia.
Aku terdiam beberapa detik, aku bingung menyusun kata untuk menjawab pertanyaan itu.
Dan dia memotong keheningan itu, “Pasti jawabanmu fifty-fifty kan?”
Aku hanya tertawa kecil, lantas aku berkata “Aku tidak tahu, apakah aku memang perlu tuhan untuk kupercayai.. Hmm mungkin tuhanku alam semesta, jika dalam bentuk riil”.
Aku balik bertanya padanya, “Kalau kamu?”
Lantas dia menjawab “Aku percaya akan tuhan, tuhan itu ada dalam imajinasiku..”
Jawaban singkat yang membuat aku terdiam dan menyimaknya dengan seksama.
Dan dia menambahkan “Tuhan ada dalam imajinasi yang membantuku mengatasi masalah, menemaniku saat sedih, dan senang.”
Dia memang cewek yang sederhana dan istimewa pikirku, itulah yang membuatku selalu rindu.
Bosan Kerja, 16 Juni 2011
[*] Jika lebih banyak orang yang meng-ada-kan tuhan lewat imaji, dan tidak memaksakan imajinya ke orang lain, mungkin dunia saat ini akan lebih nyaman untuk ditinggali.



wow!! saya pikir juga begitu bro, ditengah kegalauan asal-asalan saya, mungkin proyeksi Tuhan itu adalah seluas imajinasi pribadi. Dia berkembang secara tidak terduga dan tak terkira sebelumnya. Tapi memang berita buruknya selalu saja ada scumbag yang memaksakan imaji personalnya ke kepala orang lain.
anyway glad you post this bro.
thanks, andrew
makasih bro, tetap berkarya!
tuhannya sama mas sama yang ini
http://guhpraset.blogspot.com/2011/07/jangan-ganggu-teman-imajiner-saya.html
kalo d anggap junk, delete aja mas…:D