Sore menjelang malam, di sebuah cafe yang nyaman, aku bersandar pada kursi sofa. Bersama seorang cewek temanku SMA, seorang cowok temanku SMA juga, dan dua orang cewek yang baru saja aku kenal hari itu. Dua orang cewek itu adalah teman dari temanku SMA tadi. Suasana tenang diiringi lantunan lagu jazz, kami tidak sedang mengobrol. Mereka sibuk dengan gadget-nya masing-masing. Aku melirik temanku cowok, sepertinya dia sedang membalas sms dari temannya. Aku melirik satu-persatu temanku yang lain, mereka juga sibuk mengetik di handphone Qwerty-nya, entah apa yg mereka ketik, mungkin sedang sibuk dengan Facebook, Twitter, BBM (BlackBerry Messenger), atau entahlah.
Handphoneku bergetar pertanda ada sms masuk, aku hanya membaca sms itu dan tidak membalasnya, sms yang tidak terlalu urgent untuk dijawab saat itu pikirku. Karena handphoneku juga sedang low-bat, maka aku letakkan kembali di atas meja di samping gelas berisi teh. Aku tetap diam, kami tetap diam. Aku menggaruk-garuk kepala walaupun tidak ada yang gatal, lalu menggaruk-garuk pantatku, karena memang ada yang gatal. Masih tetap sepi, sampai akhirnya camilan yang kami pesan datang dan memecah sepi. Horee!
“Teknologi membuat sesuatu yang jauh menjadi penting, tapi itu cuman kerjaan orang-orang yang nggak tau lagi hal penting yang perlu dia lakuin di tempatnya kini berada.” ~Crimethought
Cafe Bogor, 6 Juni 2011


